Kontenjabar.com(30/10/2025)Di sekitar jalan menuju Gardu Induk (GI) Lamajang, terbentang spanduk-spanduk berwarna mencolok, berisi kalimat-kalimat penolakan yang lantang. Spanduk-spanduk itu menjadi simbol perlawanan para pedagang kaki lima (PKL) yang merasa terancam mata pencahariannya.
Sudah bertahun-tahun mereka menggantungkan hidup di sana. Meski hanya berjualan setiap hari Minggu, mereka menawarkan beragam kebutuhan: makanan, minuman, pakaian, hingga pernak-pernik. Pelanggan mereka pun beragam, mulai dari pekerja pabrik, warga sekitar, hingga pengendara yang melintas. Keberadaan mereka, meski hanya sehari dalam seminggu, telah menjadi denyut nadi ekonomi kecil di Lamajang.
Namun, mimpi indah itu terancam sirna. PT PLN (Persero) GI Lamajang berencana merelokasi mereka ke lokasi baru dengan alasan penataan dan pengembangan kawasan. Para PKL tak menampik perlunya penataan, tetapi mereka menolak mentah-mentah lokasi relokasi yang ditawarkan. Mereka khawatir, lokasi baru tersebut akan membuat pelanggan enggan datang dan usaha mereka mati suri.
Kang Hilman, seorang tokoh masyarakat Kabupaten Bandung, turut angkat bicara. Ia menyayangkan sikap PLN yang dinilai kurang bijak. “PLN seharusnya mengakomodir kepentingan para PKL. Mereka ini UMKM yang juga berkontribusi pada perekonomian daerah. Jangan malah dimatikan usahanya,” tegasnya.
Para PKL merasa diperlakukan tidak adil. Mereka bukan pedagang liar yang hanya memanfaatkan lahan tanpa izin. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal.
Aksi pemasangan spanduk adalah bentuk protes terakhir mereka. Mereka berharap suara mereka didengar oleh pihak PLN dan pemerintah desa. Mereka ingin diajak berdialog, mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak, bukan hanya solusi yang menguntungkan PLN, tetapi juga solusi yang tidak mematikan mata pencaharian mereka.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PLN dan Pemerintah Desa Lamajang. Sementara itu, spanduk-spanduk penolakan masih terbentang di ruas jalan menuju GI Lamajang, menjadi saksi bisu perjuangan para pedagang kaki lima yang berjuang mempertahankan hidup mereka. Akankah suara mereka didengar? Waktu yang akan menjawab.
Askur78

