MAHASISWA ISBI GANDENG SESEPUH ADAT CIKONDANG GELAR PAGELARAN SENI BELUK DI DESA LAMAJANG: KAYA AKAN PESAN MORAL DAN KEHIDUPAN

​LAMAJANG KAB BANDUNG – Dalam upaya nyata memelihara dan melestarikan kekayaan budaya Sunda yang kian tergerus zaman, sekelompok mahasiswa dari Universitas Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menginisiasi pagelaran seni tradisional Beluk. Acara yang sarat akan nilai historis dan spiritual ini diselenggarakan di Desa Lamajang, bekerja sama langsung dengan para sesepuh Kampung Adat Cikondang.

​Pagelaran ini sukses menyedot perhatian warga dan dihadiri oleh berbagai elemen penting masyarakat, termasuk jajaran dari wilayah tetangga. Tampak hadir di lokasi, Juru Kunci Rumah Adat Cikondang, Mama Haji Anom Juhana, serta Pj Kepala Desa Mekarwangi, Bapak Dadang Kurniawan. Sementara dari pemerintah setempat, dihadiri langsung oleh Sekretaris Desa Lamajang, Ibu Hella Sri Fatonah, S.Sos. beserta jajaran perangkat desa. Kehadiran para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan ratusan warga Desa Lamajang membuat suasana acara terasa begitu khidmat sekaligus hangat.

Bacaan Lainnya

​Menghidupkan Kembali Tradisi yang Sarat Makna

​Seni Beluk merupakan tradisi olah vokal khas Sunda berupa lantunan gending atau tembang bernada tinggi yang biasanya melantunkan ayat-ayat babad atau cerita wawacan. Di tengah gempuran modernisasi, inisiasi dari mahasiswa ISBI ini menjadi angin segar bagi upaya pelestarian seni tutur yang mulai langka ini.

​Kehadiran para pemimpin desa, seperti Pj Kades Mekarwangi dan Sekdes Lamajang, menunjukkan adanya komitmen dan sinergi antarwilayah dalam mendukung pemeliharaan budaya daerah. Langkah kolaboratif antara kaum muda akademisi dan pelestari adat ini dinilai sebagai formula tepat untuk menjaga warisan leluhur agar tidak punah di tanah sendiri.

Baca Juga  Kadiv Humas: Taruna Akpol Harus Jadi Agen Cooling System Sebagai Pengemban  Fungsi Kehumasan

​Pesan Moral: Mengendalikan Nafsu hingga Indahnya Berbagi

​Bukan sekadar tontonan dan hiburan, pentas seni Beluk yang disajikan malam itu menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang hakikat kehidupan. Melalui untaian syair yang dilantunkan, terdapat beberapa poin moral penting yang ditekankan:

​Pengendalian Hawa Nafsu: Masyarakat diingatkan untuk mampu mengontrol syahwat duniawi, baik yang berkaitan dengan harta materi maupun nafsu terhadap perempuan, agar kehidupan tetap berjalan selaras dan terhormat.

​Semangat Berbagi: Syair Beluk mengamanatkan pentingnya kepedulian sosial dan berbagi dengan sesama manusia sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.

​Tuntunan Menjalani Hidup: Pertunjukan ini juga menjadi kompas moral tentang bagaimana manusia harus menapakkan kaki di bumi dengan bijaksana, menjaga hubungan baik dengan Tuhan, alam, dan sesama.

​”Seni Beluk ini bukan sekadar suara yang melengking tinggi, tapi di dalamnya ada doa, tuntunan, dan tetekon (aturan) hidup bagi kita sebagai orang Sunda agar tidak kehilangan jati diri,” ujar salah satu tokoh adat di sela-sela acara.

​Dengan suksesnya pagelaran ini, diharapkan generasi muda Desa Lamajang, Desa Mekarwangi, dan sekitarnya dapat terinspirasi untuk kembali mencintai dan merawat kebudayaan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.

Asep hartawan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *