Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kontenjabar » Moratorium Dapur Baru! BGN 2026 Konsen Ke Kualitas MBG: Gizi Ibu Hamil Sampai SD Yang Dikejar

Moratorium Dapur Baru! BGN 2026 Konsen Ke Kualitas MBG: Gizi Ibu Hamil Sampai SD Yang Dikejar

  • account_circle Asep Hartawan
  • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

kontenjabar.com|*JAKARTA, Kamis 4 Juni 2026* – Badan Gizi Nasional resmi banting setir. Kepala BGN Nanik S. Deyang menyatakan program Makan Bergizi Gratis 2026 tidak lagi ngejar target 82,9 juta penerima. Prioritas utama: beresin kualitas dapur MBG yang udah jalan.

 

“*Kami sudah sampaikan ke Presiden. Tahun 2026 mohon Bapak, kami tidak kejar kuantitas. Kami perbaiki kualitas. Dapur harus sehat, makanannya benar-benar bergizi*,” tegas Nanik usai rapat konsolidasi pimpinan BGN di Kantor BGN, Jakarta Pusat.

 

Kebijakan Baru BGN di 2026 :

 

1. *Dapur Dievaluasi Ketat*: Fokus BGN sekarang benahi SPPG/dapur MBG yang sudah beroperasi. Standar kesehatan jadi harga mati. Dapur yang nggak lolos uji akan dievaluasi dan bisa kena suspensi sementara. Nggak ada kompromi.

2. *SDM Dapur Ditempa*: BGN genjot pelatihan juru masak & pengelola dapur. Tujuannya: pelayanan rapi, porsi pas, kandungan gizi sesuai standar ahli gizi & dokter anak.

3. *Sasaran Dipresisi*: Sasaran penerima dirapikan. BGN prioritasin kelompok paling rentan: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Alasannya: masukan pakar gizi menyebut intervensi paling krusial itu dari kandungan bulan pertama sampai anak usia 9 tahun/SD. “*Itu yang kita kejar ke sana*,” kata Nanik.

4. *Rem Dapur Baru, Gas Efisiensi*: BGN moratorium sementara pembangunan dapur MBG baru. Tujuannya: anggaran dialihkan buat rapikan dapur existing + ekspansi ke daerah 3T – terdepan, terluar, tertinggal. Meski anggaran dipotong jadi Rp268 triliun, BGN optimis efisiensi bisa ditingkatkan tanpa kurangi sasaran prioritas.

 

Kebijakan ini keluar di tengah sorotan Kejagung soal dugaan praktik jual-beli titik SPPG di kasus “Dadan cs”. Nanik menegaskan: tak semua SPPG bermasalah, tapi BGN nggak tutup mata.

Baca Juga  Hima Persis Jawa Barat Tanam Bibit Pohon Durian di Kawasan Pendidikan Persis

 

 

Nanik menutup: keberhasilan MBG nggak bisa diukur dari banyaknya kepala yang makan. Tolok ukurnya: kualitas layanan dan dampak gizi nyata ke anak Indonesia.

 

“*Lebih baik 40 juta anak gizinya bener, daripada 82 juta tapi makanannya asal-asalan. Negara hadir bukan buat seremoni, tapi buat anak sehat dan cerdas*,” pungkasnya.

 

red:Agus

  • Penulis: Asep Hartawan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less

Eksplorasi konten lain dari Konten Jabar

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca