
KAB GARUT,||KONTENJABAR.COM — Sebuah acara yang sedianya menjadi ajang perayaan dan syukuran rakyat berakhir dengan tragedi memilukan. Pesta rakyat yang digelar di Pendopo Kabupaten Garut oleh pasangan Maulana Akbar dan Putri Karlina — putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Bupati Garut — berubah menjadi momen duka setelah insiden kericuhan yang menewaskan tiga orang, termasuk seorang anggota kepolisian dari Polres Garut.18Juli 2025

Acara yang dilangsungkan pada Jumat sore itu awalnya mengusung semangat pelestarian budaya dan penguatan UMKM lokal. Ribuan warga diundang untuk menikmati sajian makanan gratis dan hiburan tradisional seperti wayang, calung, dan pertunjukan rakyat lainnya. Namun, membludaknya jumlah pengunjung dan minimnya pengamanan membuat situasi tak terkendali.
Dalam sebuah podcast yang tayang beberapa hari sebelum acara, Gubernur Dedi Mulyadi bersama Maulana Akbar membahas konsep pesta rakyat yang “harus megah” dengan “semua jenis makanan dan hiburan rakyat tersedia.” Namun, tidak ada pembahasan serius soal keselamatan, kapasitas lokasi, maupun mekanisme darurat dalam skema tersebut.
Tragedi ini menuai kecaman dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Muhammad Sail Maarij, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang mendesak adanya pertanggungjawaban dari penyelenggara.
“Jika memang tidak mampu mengonsep sebuah acara dengan matang, maka jangan pernah mengadakan acara seperti ini,” tegas Sail dalam pernyataannya.
Dirinya juga menyayangkan minimnya peran pengawasan dari pihak pemerintah daerah dan aparat dalam memastikan keselamatan warga. Ia menegaskan bahwa pesta rakyat bukan sekadar panggung pencitraan, tetapi harus mengedepankan asas tanggung jawab sosial.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Garut belum memberikan keterangan resmi. Sementara itu, keluarga korban dan masyarakat Garut berharap tragedi ini menjadi pelajaran berharga agar pesta rakyat tak lagi memakan korban.
Askur-Deden wafa

