Hilman Rasyid: Pemuda Persis Harus Mampu Membaca Realitas Zaman dan Menentukan Posisi Strategis
- account_circle Asep Hartawan
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG,||KONTENJABAR.COM — Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I Masa Jihad 2026–2031 di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).
Mengusung tema “Transformasi Gerakan Membangun Episentrum Dakwah Peradaban”, Muskernas I menjadi forum konsolidasi nasional untuk menentukan langkah-langkah strategis, mengukur capaian prioritas, serta menegaskan kembali arah gerak perjuangan Pemuda Persis.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis, Hilman Rasyid, M.Pd., menegaskan bahwa Muskernas tidak boleh dipandang sekadar sebagai agenda silaturahmi maupun agenda administratif organisasi.
“Muskernas ini adalah forum konsolidasi nasional untuk menentukan langkah-langkah strategis ke depan dan untuk mengukur capaian-capaian prioritas, serta tentunya untuk menegaskan kembali arah gerak perjuangan kita ke depan,” ujar Hilman dalam sambutannya.
Selain melakukan konsolidasi internal, Muskernas I juga menjadi momentum bagi Pemuda Persis untuk kembali membaca realitas zaman dan menentukan posisi strategis organisasi di tengah perubahan nasional maupun global.
Hilman mengingatkan bahwa organisasi yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri berpotensi kehilangan relevansi. Demikian pula gerakan dakwah yang tidak mampu membaca perubahan zaman akan tertinggal oleh perubahan itu sendiri.
“Organisasi yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, itu akan kehilangan relevansi, dan gerakan dakwah yang tidak mampu membaca perubahan zaman, itu akan tertinggal oleh perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Menurut Hilman, kemampuan membaca realitas menjadi langkah mendasar yang harus dimiliki Pemuda Persis. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi, organisasi perlu menjawab pertanyaan tentang posisi dan perannya agar tidak sekadar menjadi penonton perubahan zaman.
“Jawabannya harus kita mulai dari kemampuan yang mendasar, yaitu membaca realitas zaman, membaca kondisi global dan bangsa kita hari ini,” tuturnya.
Menghadapi Hybrid War
Hilman kemudian mengajak peserta Muskernas untuk melihat perkembangan global yang menurutnya sedang menghadapi situasi yang tidak sederhana. Persaingan negara-negara adidaya, kata dia, tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan militer secara terbuka.
Perang modern telah berkembang menjadi bentuk yang lebih halus dan samar, yang oleh para ahli disebut sebagai hybrid war atau perang hibrid.
“Perang hari ini sudah berwujud, berbentuk jauh lebih halus, jauh lebih samar, bahkan jauh lebih mematikan, yaitu yang oleh para ahli disebut sebagai perang hibrid, hybrid war,” ungkap Hilman.
Ia menjelaskan bahwa perang hibrid dapat berlangsung melalui berbagai bentuk ketergantungan dan perebutan kepentingan, mulai dari ekonomi, energi, teknologi, hingga manipulasi informasi.
Dampaknya pun tidak berhenti pada persoalan geopolitik global, tetapi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Hilman mencontohkan dampak krisis geopolitik terhadap harga kebutuhan pokok serta banjirnya hoaks yang berpotensi memecah persatuan umat dan bangsa.
“Perang modern hari ini sudah berhadir melalui ketergantungan ekonomi, lewat krisis geopolitik global yang dampaknya nyata terasa sampai ke dapur rumah-rumah kita semuanya,” katanya.
Merumuskan Program Jihad Nasional
Dalam menghadapi kompleksitas perubahan tersebut, Hilman menegaskan bahwa peserta Muskernas I memikul tanggung jawab besar, baik di hadapan Allah SWT maupun jam’iyyah.
Tanggung jawab tersebut adalah merumuskan dan mematangkan program-program jihad nasional yang presisi agar gerakan Pemuda Persis mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Peserta Muskernas Pertama ini memikul beban tanggung jawab yang besar di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jam’iyyah untuk menentukan, untuk merumuskan, untuk mematangkan program-program jihad nasional yang presisi untuk membawa kapal dakwah Pemuda Persis agar senantiasa mampu berlayar lebih jauh dan mampu menembus ombak arus zaman,” ujar Hilman.
Karena itu, Muskernas I diharapkan tidak berhenti pada forum konsolidasi semata, tetapi menghasilkan rumusan program nasional yang mampu menjawab kebutuhan organisasi dan tantangan zaman.
Melalui forum tersebut, Pemuda Persis meneguhkan komitmennya untuk memperkuat konsolidasi, meningkatkan kemampuan membaca perubahan, serta merumuskan langkah strategis agar gerakan dakwah tetap relevan dan mampu mengambil posisi dalam dinamika nasional maupun global.
Muskernas I Pimpinan Pusat Pemuda Persis Masa Jihad 2026–2031 menjadi salah satu langkah awal untuk memastikan kapal dakwah Pemuda Persis terus bergerak, bukan sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi mampu menentukan arah pelayarannya.
Dewa Askur78
- Penulis: Asep Hartawan

Saat ini belum ada komentar