Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Politik » Masyarakat Butuh Kampanye Intelek Tawarkan Gagasan dan Program, Bukan Black Campaign

Masyarakat Butuh Kampanye Intelek Tawarkan Gagasan dan Program, Bukan Black Campaign

  • account_circle adminKJ
  • calendar_month Selasa, 12 Nov 2024
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Butuhkan Kampanye Intelek Tawarkan Gagasan dan Program , Bukan Black Campaign
Oleh : Idat Mustari

BANDUNG. KONTENJABAR.COM – Seperti diketahui kampanye Pilkada telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. Masing-masing Paslon  dengan para jurkamnya, telah pula mengedepankan pelbagai rencana program yang akan dieksekusi sekiranya nanti mereka  terpilih jadi Kepala Daerah.

Hampir dalam waktu yang bersamaan pula masyarakat sedikit paham (untuk tidak mengatakan samar-samar) mau ke arah mana akan dibawa para Paslon lima tahun ke depan.

Akan tetapi perlu dicatat. Hasil amatan empirik penulis, selain perilaku para kampanyewan tampak masih konsisten dengan aturan yang disepakati. Ada juga yang tidak taat asas. Alias telah keluar dari koridor. Mereka tidak lagi berpegang pada  “pakem” kegiatan kampanye, sebagai wahana pendidikan politik masyarakat.

Maka untuk hal amat penting ini, kita himbau alangkah elok kalau masing-masing kontestan melakukan introspeksi, agar sadar diri, untuk kemudian kembali ke jalur yang benar, sesuai aturan legal dan tuntutan etik moral.

Bahwa, kemungkinan adanya kritik atas gagasan lawan, sepedas apapun sifatnya tidak soal. Yang demikian itu suatu indikasi bahwa demokrasi berjalan sehat. Malahan dengan adanya kontra argumentasi, pada gilirannya dapat meningkatkan kecerdasan para atau bakal calon pendukung. Kampanye yang bersifat diskursus tersebut, akan lahir suatu kebenaran dengan basis keilmuan yang kokoh.

Sekali lagi, elok kalau kampanye Pilkada sarat dengan diskursus intelektual. Saling mengkritisi program dan wacana lawan. Tetapi dengan catatan harus tetap dalam kendali diri yang prima. Sebab jika sedikit saja kendali ini kendur, maka pasti kampanye akan berlangsung secara emosional-konfrontatif.

Di sini akan penulis kedepankan salah satu contoh kampanye yang lepas kendali dan emosional. Yakni, menyerang dengan mengungkapkan kekurangan fisik lawan. Dengan kata lain, upaya mendiskreditkan kondisi fisik seseorang. Misalnya kata “Pendek “yang ditujukan pada seorang calon kepala daerah yang dianggap jadi lawannya.

Baca Juga  Ketua Fraksi PKB : Masyarakat Kabupaten Bandung Berharap Dadang-Ali Segera Dilantik

Padahal dilihat dari perspektif Islam, terang saja perilaku seperti itu tidak dibenarkan. Dengan kata lain perlu dijauhi. Sebab yang demikian itu pada dasarnya identik dengan menggugat Penciptanya. Na`udzu billah.

Setiap muslim diingatkan oleh peristiwa ketika Rasulullah SAW menegur Abu Dzar al-Ghifari gara-gara ketika berselisih paham dengan Bilal mengucapkan, “Dasar, kulit hitam!” Bilal sangat tersinggung mendengar ucapan itu. Ia datang kepada Rasulullah SAW dan mengadukannya.

Mendengar hal itu, rona wajah Rasulullah SAW berubah dan bergegas menghampiri Abu Dzar. Lalu berkata, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat Jahiliyah!” Sampai kemudian Abu Dzar bukan saja meminta maaf kepada Bilal, bahkan meminta Bilal menginjak wajahnya. Tentu saja Bilal tidak melakukannya.

Oleh karena itu seyogyanya kampanye dengan pelecehan seperti itu, jelas tak boleh terjadi lagi. Bagi pelakunya minta maaflah, bertobatlah sebab pasti sanksi eskatologis kelak di Akhirat telah menanti. Percaya kepada hari akhir merupakan rukun iman bagi seorang muslim.

Sekali lagi jika berkampanye gunakan pendekatan rasional-persuasif, sebab ini lebih elegan dari pada kampanye emosional konfrontatif.

Sumber : Idat Mustari/Pemerhati Sosial dan Keagamaan
Editor : Komariah/Adjie

  • Penulis: adminKJ

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less

Eksplorasi konten lain dari Konten Jabar

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca